Perihal Teman Lama (Bagian satu)

 

Perkara teman lama. 
Diantara jarak dan waktu yang membentang kadang disitulah mulai bersemi rasa canggung yang kemudian menengahi. 
Bahkan rindu dan memulai tegur sapa pun kadang enggan diutarakan langsung lewat kata, dan hanya disimpan dalam benak.
Kadang aku bertanya sendiri. 
Apakah begitu penting untuk terus di ingat?Atau apakah tak apa dilupakan? Waktu terus berjalan maju tanpa mundur, menandakan tak ada yang bisa terulang kembali. Yang lalu hanya sekedar menjadi memori atau dirangkul sampai sekarang sama-sama pilihan.
Seringkali terbesit, Bagaimana kabar mereka? Yang dulu merupakan tempat berbagi tawa, bercerita panjang semalaman, mengandai mimpi dan harap dimasa depan. 
Rindu, tapi tak pernah terucap. 
Rindu yang tersimpan rapat.
Menyenangkan sekali ketika ada celah yang membuat kita bisa berbagi cerita sejenak, meskipun hanya sekedar menanyakan kabar dan kegiatan saat ini. Walaupun nantinya dipertengahan obrolan tak tau lagi ingin membahas apa sehingga berhenti begitu saja.
Sekarang, tak sejabrah dulu. Dulu, perihal apa saja selalu diceritakan tanpa canggung. 
Sekarang untuk sekedar bercerita, aku takut ceritaku tak semenarik itu untuk kau dengarkan disela sela kesibukan rutinitas kita yang berbeda. 
Aku takut mengganggu Aku takut kau tak nyaman lagi.
Perlahan satu, dua, tiga hingga banyak orang yang dulunya dekat kian terasa jauh. Ada yang dulu selalu berteriak sangat riang ketika menyapa. 
Hilang kontak sekian lama, bertemu lagi dalam obrolan, namun tak tau lagi ingin membahas apa.
Rasa-rasanya apakah segala kedekatan itu hanya terbatas saat kita berada dalam satu tempat yang sama dahulu. 
Sehingga saat kita sudah berada ditempat berbeda semua mulai terasa asing.
Perbincangan receh dimasa lampau tentang kekesalan karena terpeleset, jajanan kantin yang makin lama makin mahal, tugas yang makin menggila, Ternyata begitu bermakna.
Sekarang sekedar menyapa halo dan apa kabar saja kepada yang dulu merupakan teman sekelas saja enggan.
Bukan ke-enggan-an karena tidak mau, tapi lebih ke takut mengganggu, takut dirasa tidak penting, dan overthinking lainnya.
Setidaknya, melihat postingan mereka disosial media dengan jas almamater universitas kebanggaannya, teman-teman barunya, kegiatannya, atau hal-hal kecil lainnya Akan membuatku tersenyum mengetahui kabarnya yang terlihat baik-baik saja meskipun belum tentu begitu.
Ingin sekali aku bercerita banyak jika ada kesempatan tanpa canggung. 
Mungkin, aku yang terlalu berlebihan dalam berekspetasi tentang tanggapan mereka. 
Aku takut mengganggu, padahal mungkin saja tidak. Tapi, mungkin juga iya, sangat mengganggu. Ah, aku tidak tahu.
Interaksi-interaksi kecil walaupun hanya sekedar dalam kolom komentar yang kemudian dibalas sedikitnya menebus rindu dalam bertegur sapa. 
Postingan-nya yang semakin cantik parasnya, caranya mengekspresikan diri, betapa hangat pertemanan barunya. Aku senang melihatnya.
Awalnya, aku senang akan bertemu banyak orang baru didunia perkuliahan. Disatu sisi, aku harus kehilangan beberapa bagian dari masa lalu-ku, dan menyimpannya hanya sebagai cerita.
Aku tahu, banyak kesalahan yang aku buat sehingga kecanggungan itu muncul, salah satunya gengsi memulai percakapan. Ah tapi kadang tidak juga, jika responnya terlihat seperti tak tertarik, aku pun bingung harus bilang apa.
Dan pada akhirnya. 
Hidup memang tentang mereka yang datang dan pergi. 
Mereka yang bertahan. 
Mereka yang menjauh. 
Mereka yang terlupakan. 
Mereka yang tak tergantikan. 
Dan mereka yang tak dapat di istilahkan.
Rindu yang tak pernah diutarakan. Aku rindu masa-masa itu walau kadang aku benci mengingat beberapa bagian menyakitkan diantaranya.
:)

--- SF ---
Ditulis pada 13 Januari 2021
Dipublikasikan kembali pada 15 April 2021 di Bogor yang sudah tiga hari ini dibasahi guyuran hujan.

Komentar

Postingan Populer