Bertaruh pada 2024
Aku merencanakan untuk menulis tulisan ini sudah dari beberapa waktu lalu sebagai tulisan penutup tahun 2024 yang penuh dengan berbagai gejolak ini. tapi mengikuti suasana hatiku, akhirnya aku baru mulai menuliskannya saat ini tepat pukul 22:50 WIB yang mana sebentar lagi tahun akan berganti ke 2025.
Mengutip beberapa bait lirik dari lagu ‘Bertaruh Pada Api’ oleh Dongker yang banyak aku putar ulang selama akhir tahun 2024 ini, aku memaknainya dengan makna versiku sendiri yang mungkin sedikit (atau jauh berbeda) dengan makna aslinya, sebagaimana kutipan-kutipan ini mewakili ungkapanku ditahun ini.
Bertaruh pada api
kuharap takkan mati
tapi sial ini padam dan tak terang
Lirik itu berulang kali aku dengar tahun ini. gambarannya bagaikan berusaha bertahan dalam situasi yang begitu tak menentu, dan melihat banyak hal perlahan padam.
Mengenai beberapa sorotan ditahun ini, tahun setelah aku menuntaskan pendidikan strata-1 ku. orang-orang mengatakannya sebagai fase ‘life after graduate’ tak ada lagi sekolah, tak ada lagi kelas, tak ada presentasi, setelah lebih dari separuh umurku dihabiskan untuk menjadi pelajar rasanya cukup aneh menghadapi fase kehidupan tanpa kurikulum, tanpa menunggu semester berikutnya.
rasa-rasanya sudah jenuh jika ditanyakan “tujuan hidupmu apa setelah ini?”, saat beban akademis dan jiwa ambisius itu sudah kian tergerus dimasa-masa menjadi pelajar itu. Life gets real as you grow older, whether you realize it or not
Hidup akan terus berjalan walaupun kita merasa tidak kemana-mana, mestinya kita memiliki pilihan untuk melanjutkannya ke arah mana (bahkan tidak memilih pun juga pilihan), segala hal menjadi pertaruhan nampaknya? tapi aku tak ingin menganggapnya sebagai kompetisi untuk bertaruh mengejar ‘apa yang seharusnya dilakukan oleh anak orang seumuranku’, entah aku yang tak (lagi) ambisius atau aku yang tidak belum memiliki tujuan yang jelas untuk dikejar? What lies at the end of the road ahead?
maaf jika pembuka ini terasa begitu pesimis dan melankolis, tapi begitulah pergolakannya pada mulanya.
Am I truly defeated?
Terkadang aku tak tahu (atau sebenarnya hanya mencoba untuk tak menghiraukan) apa-apa yang seharusnya aku lakukan, saat yang lain telah melaju lebih jauh ke arah tujuan hidupnya yang jelas.
menjalani hidup bertahun-tahun untuk berusaha mendapat nilai yang bagus agar menjadi pelajar yang berprestasi, mendapat peringkat, meraih ipk, beasiswa, organisasi dan segala macamnya. lalu setelah itu apa lagi? setelah semua masa itu telah usai?
apakah yang sebenarnya kamu cari? apakah itu impianmu?
untuk segala mimpi yang selalu kamu bayangkan untuk menggenggamnya erat tapi ternyata tidak ataupun belum bisa diraih, saat yang kamu harap impianmu bisa menjadi tujuan hidupmu dengan jalanmu sendiri.
sayangnya dunia tak bekerja dengan cara seperti itu, dengan cara-cara yang kamu mau.
saat kamu hancur, dunia tak akan membujukmu untuk bangkit, bahkan mungkin saja ia membiarkanmu jatuh, maka bangkitlah dari dirimu sendiri.
saat kamu memilih, kadang dunia tak berpihak dengan pilihanmu
teruslah bertahan dan mencoba sampai dititik dimana tempat kamu seharusnya berada.
sial, aku selalu mencoba tuk menang
dan tak akan pernah memenangkan semua
aku tak pernah benar-benar pasrah untuk diriku sendiri, aku selalu tahu aku punya tujuan walaupun aku belum tau bagaimana arahnya, aku memilih untuk sedikit menepi dari segala keriuhan diluar sana, mengambil sedikit jeda untuk diriku sendiri ditengah dunia yang ageism, entah pilihanku benar atau tidak setidaknya aku memilih.
beberapa kali aku mencoba keluar dari zona nyaman, beberapa kali percobaan itu memang belum memberikan hasil tapi tetap ada hasilnya. dari segala hal yang aku telusuri, dari segala soal-soal ujian yang ku kerjakan, dari segala seleksi yang ku hadapi. aku sadar bahwa mungkin beberapa hal itu kurang usahaku, atau memang bukan untukku?
saat aku sadari, setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri, lahir dan tumbuh dengan cara yang berbeda dan memilih dengan cara yang berbeda pula, maka menyamakan perjalanan hidup setiap orang dengan standar sosial memang terasa tidak adil jika kita membicarakan dunia yang ideal, namun sayangnya kita hidup dalam realita dunia yang angkuh yang seringkali tidak peduli untuk memandang semua itu.
Komentar
Posting Komentar