Bahagia dengan Cara Lain
Karena masih ada bahagia dengan cara yang lain....
Tak hanya ada satu cara untuk tersenyum....
bukalah matamu.... betapa luasnya dunia ini
bahagialah dengan cara lain....
tempuhlah hidupmu...
masih ada banyak orang yang bisa memudarkan luka hatimu, walau tak sampai menghilangkan bekasnya...
sadarilah itu semua....
banyak pelajaran yang perlu kau ambil
Allah mengujimu agar semakin banyak pelajaran yang bisa kau terima
(ditulis pada selasa, 17 oktober 2017. pukul 23:40)
aku sedikit mencoba mengingat tentang tulisan ditahun 2017 itu, yang mungkin menggambarkan perasaanku kala itu. aku berusia 15 tahun ketika menuliskannya, ah sangat tak terasa waktu telah berlalu, aku mungkin tak bisa mengingat setiap detail kejadian yang telah aku lalui, tapi aku masih bisa merasakan emosi perasaan dari apa yang pernah aku tulis.
mungkin berat rasanya saat merasa sendiri dan berjalan sendirian, merasa bahwa dunia tak memihak pada diri, bahkan tersenyum pun sulit dan getir sekali rasanya, disaat merasa benar-benar tak ada orang yang bisa paham apa yang sedang dirasakan, sehingga enggan untuk bercerita kepada siapapun, atau mungkin tidak bisa percaya dengan siapapun, mau menyerah pun menyerah pada hal apa? toh hari juga terus berganti, waktu terus bergulir, detik pun terus melaju tak peduli ada orang yang sedang kecewa dengan hidupnya sehingga terus merutuki dirinya sendiri.
saat hal lucu terlihat tak dapat ditertawakan lagi
saat lelucon yang didengar tak bisa menjadi pelipur lara
hanya diri sendiri yang tau cara menghibur diri
terasa klasik sekali mengatakan semua akan indah pada waktunya bagi orang yang tidak sabaran menjalani waktu-waktu tegang, termasuk aku saat itu, aku yang tak mau beranjak dari relung benak yang mungkin separuhnya dikuasai pikiran kelelahan menghadapi problematika kehidupan anak remaja, semua butuh waktu, sekiranya rehat singkat untuk menjernihkan pikiran, rehat yang tidak boleh terlalu lama karena waktu terus berjalan, hari-hari esok menanti dengan rahasianya masing-masing.
mulai mengangkat kepala, mencoba melapangkan dada, dan memahami bahwa esensi hidup bukanlah tentang aku, aku dan aku, atau hanya tentang dia, dia dan dia, kadang kita larut dalam kecewa yang berlebihan karena memfokuskan diri dengan mendefinisikan kebahagiaan pada satu hal, satu tujuan, tanpa menyiapkan rencana lain untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam hidup, dikecewakan, larut dan tak percaya bahwa ada bahagia yang seharusnya bisa didapatkan dengan cara lain, dan tersenyum pada banyak hal yang walaupun sederhana.
dunia terlalu luas untuk menutup mata dari orang-orang baru, orang-orang lama, orang-orang terdekat, atau siapapun orangnya, memang ada luka yang selalu meninggalkan bekas karena goresannya yang tajam, tapi luka itu tak selalu harus ditunjukan kepada semua orang, biarlah memudar seiring menjalani hidup dengan mengambil pembelajaran disekelilingnya, mecoba berdiri lebih tangguh ketika dihadapkan realita-realita dalam hidup yang kadang tak mudah untuk diterima.
"Allah mengujimu agar semakin banyak pelajaran yang bisa kau terima"
tiga tahun lebih telah berlalu dari aku menulis deretan kata itu hingga aku menulis tulisan ini, hingga aku bisa sedikit memahami pembelajaran dari masa-masa berat yang ku alami, beranjak dan jangan terpaku dengan keadaan akan lebih baik karena semua akan berlalu.
-- SF --
Bogor, 12 Maret 2021
Lanjutkan,... Di tunggu karya² selanjutnya
BalasHapus